Legend Sniper Indonesia Meninggal

Namanya Tatang Koswara. Dirinya masuk dalam daftar penembak jitu alias sniper paling baik di dunia, semacam tercantum dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons. Dalam buku yang ditulis Peter Brookesmith itu, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Kini, usianya 68 tahun. Seusai pensiun dari dinas, Tatang serta keluarga menyandarkan hidup dari warung nasi yang mereka kelola. (Baca juga: Kisah "Sniper" Paling baik Dunia yang Saat ini Hidup dari Warung Makan (1)).


Sebuah koper tergeletak di dekat pintu ruang tamu. Tidak jauh dari sana, terkesan sejumlah gambar Tatang berseragam lengkap serta sejumlah plakat penghargaan. Di depannya, terkesan hiasan berupa tahap senjata yang ditambahkan pemanis baret hijau TNI AD.


Siapa pun yang datang dapat langsung mengetahui siapa sang pemilik rumah dari ruang tamu sederhana ini. Sebagai seorang sniper, kehidupan Tatang sangat dekat dengan senjata. Padahal, dulu, ia tidak sengaja nyemplung di dunia militer.

"Ayah saya terbukti seorang tentara. Tapi, saya (awalnya) tidak berniat untuk menjadi tentara," ujar Tatang di kediamannya di lingkungan kompleks TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015).

Tetapi, hidup mengatakan lain. Saat itu, cocoknya pada tahun 1967, Tatang disuruh ibunya mengantar sang adik untuk mendaftar menjadi anak buah TNI. Saat meperbuat tes, dirinya berjumpa dengan sejumlah perwira Sertadim di Banten yang mengetahuinya. Tatang pun ditanya kenapa tidak ikut daftar.

"Saya kenal dengan perwira Sertadim sebab sebelumnya juara sepak bola. Sebab juara sepak bola itu juga serta berbagai prestasi lainnya, saya diminta para perwira Sertadim untuk daftar sehingga anak buah TNI," ujar Tatang.

Seusai pulang ke rumah, Tatang remaja pernah bingung. Sampai keesokan harinya, dirinya menyiapkan semua persyaratan serta mendaftarkan diri lewat jalur tamtama.

Sesuai dugaan, Tatang lulus, sedangkan adiknya wajib mencoba tahun depan untuk bergabung ke TNI AD.


Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membikin pelajaran militer menjadi faktor yang tidak susah baginya, baik dalam faktor fisik, berenang, maupun menembak.

Hingga tahun 1974-1975, Tatang bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway.

"Tahun itu, Indonesia belum mempunyai antiteror serta sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), serta Brimob (Polri). Tetapi, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD," imbuhnya.

Dalam praktiknya, Kopassus pun kesusahan memenuhi kuota yang ada. Seusai seleksi fisik serta performa, dari keperluan 60 orang, Kopassus hanya sanggup memenuhi 50 kursi.

Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang serta tujuh kawannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang serta 59 anak buah TNI AD dilatih Kapten Conway kurang lebih dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, serta 900 meter. Selain itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, serta menghapusnya.

Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus serta mendapat senjata Winchester model 70.

Semacam dikutip majalah Antariksa serta Shooting Times, Winchester 70 yang disebut "Bolt-action Rifle of the Century" ini juga dipakai sniper legendaris Marinir AS, Carlos Hathcock, saat perang Vietnam. Senjata ini mempunyai keseksamaan target sampai 900 meter.

Rupanya senjata serta ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini menolong Tatang dalam pertempuran. Sebab, seusai itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) Cimahi, menjadi pengawal pribadi sekaligus sniper saat terjun ke medan perang di Timor Timur (1977-1978).

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang serta Ginting). Pertama, membekuk empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, serta anak buah pembawa senjata otomatis. Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, menonton kondisi medan, serta mengabarkannya ke atasan yang menyusun taktik perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Faktor ini berfungsi untuk mengurangi jatuhnya korban.

"Lawan kami itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya performa gerilya yang canggih, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," ujarnya.

 KOMPAS.com/Reni Susanti Tatang Koswara beserta istri.
Selamat sebab Merah Putih

Pada sebuahhari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya. Tatang terperangkap serta tidak dapat bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Tetapi, sebelum mati, ia wajib membunuh komandannya terlebih dahulu.

"Posisi komandannya telah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menantikan saat yang cocok. Sampai pukul 17.00 WIB, komandan itu berangkat ke bawah serta saya tembak kepalanya," tuturnya.

Tetapi, nyatanya, di bawah jumlah pasukan tidak kalah tidak sedikit. Tatang dihujani peluru serta terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya tentang pohon.

"Darah mengalir deras sampai telah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak sebab itu bakal memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya.

Tatang baru dapat bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dirinya mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Tetapi, darah tidak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan gambar keluarga. Sambil berdoa, dirinya mengikatkan syal tersebut di kakinya.

"Saya mempunyai prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal gambar keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan supaya dapat menonton anak keempat saya yang tetap dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Nyatanya, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya.

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru sukses menghujam musuh.

Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam kondisi terdesak, dirinya bakal membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper paling baik dunia, semacam dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 serta Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang mendapatkan rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.
Berita duka itu disampaikan Deddy Corbuzier dalam akun Twitter miliknya, @corbuzier. pemandu agenda program Hitam Putih di Trans7.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun Bapak Tatang Koswara memejamkan mata untuk yang terakhir kalinya. #hitamputihberduka.”

Tatang, Selasa malam ini, mengisi agenda live Hitam Putih di Trans 7. Seusai menceritakan semua perjuangannya dalam membela Tanah Air, Tatang pingsan. Tatang pernah dibawa ke rumah sakit, namun tak terselamatkan

Advertisement

0 komentar:

Posting Komentar